Senin, 04 Oktober 2010

Balada Lulusan SMA

Sebelum gue nulis ini, sebenernya gue udah sempet baca berita di koran Kompas dengan judul yang sama. Isi dari bacaannya pun bikin gue jadi tertarik untuk membahasnya.

Di koran itu disebutkan bahwa setiap tahunnya ada lebih dari 1 juta siswa yang lulus SMA dan SMK.
Ke mana mereka selanjutnya? Kebanyakan masuk ke dunia kerja sebagai buruh yang bergaji pas-pasan. Ya, hanya itulah kondisi yang disediakan industri bagi mereka. Belum lagi upah/ gaji yang mereka terima jauh dari harapan. Kalau mau gaji lebih, ya harus lembur dulu.
Apa mau dikata, ijazah sekolah menengah sekarang hanya cukup untuk melamar pekerjaan seperti buruh pabrik, pramuniaga, office boy, cleaning service, SPG, SPB, atau kurir.

Walaupun ada sebagian perusahaan yang masih mau mempekerjakan lulusan SMA dan SMK sebagai staff administrasi atau semacamnya. Tapi jelas, para lulusan SMA dan SMK masih harus bersaing dengan para sarjana yang juga masih banyak nganggur!

Gue jadi teringat waktu ngelamar kerja beberapa bulan yang lalu. Udah nyari lowongannya susah payah, saingannya juga bejubel, dan hasilnya pun nihil.
Memang, banyak temen-temen gue yang sekarang dapet kerjaan yang lebih baik dari yang disebutkan diatas tadi.
Misalnya, jadi kasir di sebuah supermarket, pramuniaga di sebuah restoran, bagian admin di sebuah perusahaan. Dan gajinya pun lumayan buat nambah duit jajan dan bantuin orangtua.
Tapi tetep aja, mereka nggak mau selamanya kerja kayak gitu, kan? Pasti merek berharap mendapat pekerjaan yang lebih baik dan gajinya pun lebih besar.
Untuk saat ini sih IDR 1,2 juta sampai IDR 1,8 juta masih dirasa besar. Tapi itu kan karena mereka belom punya tanggungan (baca: keluarga -> suami/istri, dan anak)
Nggak selamanya kan mereka jadi single ladies, they'll get married someday.

Dan setelah membaca tulisan gue yang barusan, lo pasti pada mikir kalo ternyata ijazah SMA atau SMK nggak menjamin kita bakal dapet pekerjaan yang lebih baik. Mau nggak mau, kita harus punya pendidikan yang lebih tinggi. Karena jelas, zaman semakin menuntut kita untuk menjadi lebih professional.

Dan setelah membaca koran tadi, gue pun sadar, bahwa ternyata gue masih lebih beruntung. Keluarga gue nggak mau gue menyia-nyiakan waktu gue saat ini hanya untuk kerja sebagai pramuniaga atau SPG. Walaupun pekerjaannya halal, tapi godaannya juga banyak! (Yaah, you know lah...)
That's why, sekalipun gue kuliah di tempat yang -sebenernya- nggak gue pengenin, tapi setidaknya gue bersyukur bisa dapet kesempatan untuk menambah ilmu pengetahuan gue.

Buat yang nggak mau ngelamar kerjaan, bisa kok buka usaha sendiri. Paling nggak kita bisa membuka lapangan kerja bagi orang lain.
Memang awalnya terdengar impossible. Tapi nggak ada salahnya mencoba kan?
Daripada harus jadi bagian dari para pengangguran yang memimpikan pekerjaan di negeri yang, katanya, gemah ripah loh jinawi ini.

0 komentar (+add yours?)

Poskan Komentar