Jumat, 28 Desember 2012

Intermezzo

Seorang teman dekatku pernah berkata, jatuh cinta itu rasanya seperti ada kupu-kupu yang berterbangan di perutmu, lalu naik ke hatimu.

Aku pernah merasakan hal seperti yang dikatakan temanku itu. Kupu-kupu berterbangan di perutku, lalu naik ke hatiku. Begitu menggelikan. Tapi rasanya menyenangkan. Apalagi jika orang yang membuat kupu-kupu itu berterbangan, menyatakan cintanya padamu. Seluruh bunga di dunia serasa bermekaran di hatimu. Namun, hal itu tidak pernah bertahan lama padaku.

Ada saja masalah yang datang dan memusnahkan kupu-kupu itu dari hatiku. Saat kau menyadari, cintanya hanya bualan belaka, rasanya seluruh bunga di dunia menancapkan durinya di hatimu. Sakit. Perih.

Aku tidak pernah membayangkan, bagaimana rasanya jika suatu saat nanti aku jatuh cinta lagi. Apa kupu-kupu itu akan kembali muncul dan berterbangan di perutku, kemudian naik ke hatiku? Apa nantinya bunga-bunga di seluruh dunia akan kembali bermekaran di hatiku? Hal yang satu-satunya aku takutkan adalah jika bunga-bunga itu menencapkan durinya lagi.

Aku tidak ingin merasakan sakit dan perih untuk yang kesekian kalinya. Akan menghabiskan banyak energy untuk menangis dan melupakan hal-hal yang tak pantas untuk diingat lagi. Sudah cukup bagiku.

Namun, temanku yang lain mengingatkan, rasa sakit dan perih itu resiko jika kita jatuh cinta. Kalau tidak ingin menanggung resikonya, maka jangan pernah jatuh cinta.
Hmm, ada benarnya juga.

Aku ingin jatuh cinta, tapi tidak ingin menanggung resikonya. That’s not fair, right?

Well, aku tidak pernah tahu, dengan siapa dan bagaimana caranya kupu-kupu itu akan kembali berterbangan di perutku. Yang masih aku pikirkan, apa aku siap jika ada duri yang menancap di hatiku dan melenyapkan kupu-kupu itu?

Entahlah…



~ Nuri ~

0 komentar (+add yours?)

Poskan Komentar